Selamat Jalan Ayah Kami Tersayang
Namanya Zulhiswan. Memang beliau bukan ayah kandung ku, tapi beliau ayah kami semua, siswa-siswi Insan Cendekia Serpong. Ayah yang mengajarkan kami tidak sekedar ilmu pengetahuan, tapi juga mengajarkan kami bertahan hidup hingga perilaku, atau yang biasa kami sebut akhlak.
Pak Zul seorang guru matematika di sekolah ku dulu. Di tengah pengajarannya yang tegas, beliau dengan sabar mengajarkan kami hingga mengerti betul. Dulu, aku sempat takut dengan beliau. Masalahnya selain perawakannya yang tinggi besar, suara beliau pun cukup lantang saat menjelaskan. Curi-curi tidur di jam pelajaran beliau sangat tabu! Hilang konsentrasi bisa berujung terseok-seok di menit berikutnya. Tapi kembali, beliau akan mengajarkan kembali. Di balik kegaharan beliau saat mengajar, tak jarang pula diselipkan gurauan segar serta nasihat-nasihat bijak. Pak Zul juga seorang guru tatib (tata tertib) di sekolah saat aku kelas XI, tak heran beliau begitu dihormati dan disegani.
Kurang lebih satu tahun yang lalu, keluarga ku Insan Cendekia Serpong menerima berita duka. Ayah kami tercinta, Pak Zul jatuh sakit. Seketika itu pula sakit beliau langsung parah, ada tumor tumbuh di otaknya. Beliau koma, stroke, bahkan seperti hilang ingatan serta komplikasi lain. Innalillahi, begitu berat untuk Ayah dan keluarganya, termasuk untuk kami. Bantuan dikumpulkan untuk operasi pengangkatan tumor, hingga akhirnya tumor berhasil diangkat, namun beliau masih harus menjalani kemoterapi untuk menghilangkan sisa-sisa tumornya. Keadaan beliau pun semakin membaik, walaupun untuk mengembalikan memorinya butuh waktu lebih lama.
Kurang dari satu tahun yang lalu, setelah operasi itu, aku dan beberapa teman menjenguk beliau. Pak Zul yang dulu kulihat begitu segar terbaring lemah dan kurus di kamar putih dengan bau obat disekelilingnya. Beliau ditemani seorang wanita yang begitu tegar, istrinya. Seperti yang telah diceritakan teman lain, memori beliau seperti hampir hilang, untuk mengingat nama kami beliau kesulitan, terlebih untuk mengingat materi matematika yang sangat rumit yang dulu pernah beliau ajarkan kepada kami. Beliau pun menyayangkan waktu sakitnya yang dekat dengan masa ujian membuatnya tidak bisa meneruskan membimbing adik-adik yang akan ujian. Ya Allah, dalam kondisinya seperti itu, beliau justru ingin berjuang untuk kami, anak-anaknya.
Di waktu lain, ketika kondisi beliau sudah semakin membaik, pun ingatan beliau, Pak Zul kembali ke Insan Cendekia. Saya dan beberapa teman lain yang berkesempatan saat itu mengunjungi sekolah penuh kenangan, dan kami bertemu beliau. Begitu kurus, dalam masa penyembuhan ungkap beliau. Alhamdulillah, beliau bisa berjalan walau tertatih. Sempat beliau melemparkan candaan tentang berat badannya yang kian menurun, untuk menghitung jumlah berat beliau yang berkurang beliau pun kesulitan. Kami disuruh menghitung pengurangan sederhana itu, lalu beliau tertawa pelan, “Saya sudah ga bisa matematika seperti dulu, harus belajar dari awal lagi supaya bisa terus mengajar”. Ya Allah, di waktu sulitnya beliau ingin mengajar. Pak, saya berjuang keras menahan tangis saat itu.
Berbagai terapi dijalankan untuk kesembuhan beliau, namun Allah berkehendak lain. Keadaan Pak Zul kembali memburuk setelah itu. Entah karena operasi keduanya yang gagal atau apa. Ayah yang semakin lemah kemudian dirawat di rumahnya sendiri oleh istrinya dengan bantuan perawat. Tubuhnya kian kurus, dengan alat bantu pernafasan dan infus beliau bertahan hidup berbulan-bulan dijaga istrinya yang tak kenal lelah. Namun Allah berkehendak lain.
Pagi ini berita duka itu datang, di hari ke 29 bulan Ramadhan. Ayah kami tersayang yang selalu kami banggakan telah dipanggil oleh Nya. Baru saja dua hari yang lalu, saya dan teman-teman seangkatan membicarakan beliau, mengirim doa dan harapan untuk beliau agar diberi kemudahan dalam melalui cobaan. Berbicara tentang kami harus melakukan apapun yang kami bisa untuk membalas jasa beliau selagi kami bisa, selagi beliau ada. Lagi, kami hanya bisa berdoa kepada Allah agar beliau dimudahkan urusannya dan diberikan tempat terbaik disisi-Nya.
Pak Zulhiswan, seorang ayah tanpa anak kandung tetapi memiliki ratusan anak yang beliau didik dengan sangat ikhlas. Betapa beharganya semua pelajaran dan pengajaran yang telah beliau berikan kepada kami. Semoga kami bisa menjadi insan-insan cendekia seperti yang Bapak ajarkan kami untuk menjadi. Semoga pahala Bapak dilipat gandakan oleh Yang Maha Kuasa dan keluarga yang ditinggalkan mendapat limpahan rahmat serta berkah-Nya.
Laut yang tenang tidak akan menghasilkan pelaut yang tangguh. - Bapak Zulhiswan, Insan Cendekia Serpong.
Selamat jalan, ayah. Doa kami menyertai mu.

