why so serious?
“mana yang lebih serius, orang ngadepin kerjaannya atau orang yang nonton pertandingan bola?”
“mana yang lebih sering bikin ribut, kerjaan atau tim bola?”
21, dan sering kali kita lupa masalah yang sebenarnya dihadapi. kontan saja semua yang ada dianggap masalah, pikirkan, ributkan. memang sudah seharusnya diselesaikan. tapi harusnya bisa saja tanpa otot-otot yang menegang.
memang sudah seharusnya, semakin besar kita akan dihadapi dengan berbagai kenyataan, yang biasanya lebih pahit dari sebelumnya. itu mengapa, seorang anak yang sering bermain, tidak sepatutnya dimarahi karena terlalu sering bermain. toh hanya saat itu waktu mereka bermain. umur yang bertambah berbanding terbalik dengan waktu bermain yang tersedia.
serius itu selalu ada waktunya, pun dengan ketidakseriusan. sudah sepatutnya keseriusan diletakkan pada tempatnya sendiri, pun ketidakseriusan.
jika saja hidup bisa berulang kali, mungkin hidup kali ini bisa diberikan untuk ketidakseriusan, dan hidup nanti baru untuk keseriusan. tapi ternyata tidak. maka kita harus bisa membaginya dengan adil. adil dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
duh masa muda.

